Ketika kutelusuri setiap jalan yang kulewati, setiap itu pula aku bertemu senyum itu, senyum yang penuh garis kelelahan yang entah dimulai dari mana, legam bercampur keringat yang kering terhembus angin hujan lewat, membuat tubuh rentanya semakin tenggelam bersama tenggelamnya sang surya menuju peraduannya.
berteduh dipinggiran, hanya tertutupi kertas karton yang hanya menutupi sebagian wajahnya yang sudah renta.
setiap melihat guratan penuh derita, setiap itupulah aku teringat nenekku yang telah mengunjungi dunia keabadian lebih dulu. senyum yang renta itu sangat bersahaja dan damai penuh ikhlas, dan berharap keikhlasan dari sesama.
sedikit kumenangis disudut air mata, terenyuh melihat angin mengacak rambutnya yang sudah memutih dan kusut itu. Ya senyum pinggiran itu telah berusaha mempertahankan nafasnya untuk sebuah jantung, yang kian hari kian berkurang denyutnya, karena usia yang melambai dan mengajak untuk sejenak tidur dari aktivitasnya yang selalu ditemani angin, yang kadang bersahabat namun juga sangat kejam, yang sering membungkus tubuhnya yang senja dan membuatnya semakin menggigil, karena angin yang telah membungkus bajunya yang tipis, kusut, dan pudar.....syukur menjadikan setiap orang selalu ingat akan rezeki yang telah diberikan kepadanya, dari tangan-NYA, dan diperuntukkannya, untuk senyum yang terpeinggir. [prs]
0 comments: