Ada beberapa model berboncengan dalam bersepeda motor, model samping dan "mengangkang". Dalam hal mengangkang bagi sebagian pria adalah bisa membuat pria bagai terkena tegangan kejut, Apalagi jika mengangkangnya di tempat tidur, Tegangan yang mengalir pun
bergemuruh tak terkendali. Namun, bila perempuan mengangkang di atas
motor, karena posisi tersebut lebih aman, kenapa sampai takut terkena tegangan kejut?! Sudah dipenuhikah kotoran otak dan hati kita?!
Rasanya aneh banget mengetahui keributan di Aceh soal pelarangan
perempuan mengangkang di atas motor. Dalam hati saya, ini apa lagi?!
Apa tak ada pekerjaan lain yang lebih penting untuk dipikirkan sampai
urusan seperti ini menjadi sesuatu yang penting?! Nggak takut dengan tegangan kejut yang lebih besar lagi?! Kemaluan itu sudah diletakkan di mana?!
Kita selalu heboh dengan masalah lalu selalu santai karena merasa bahwa
setiap masalah pasti ada solusinya. Solusi selalu ada tapi diterapkan
atau tidak?! Solusi yang sifatnya sementara saja tidak diterapkan, asyik
sibuk dengan keinginan, hasrat, nafsu, dan ego sendiri, apalagi solusi
yang mendasar untuk menyelesaikan inti masalahnya. Pohon ditebang
dahannya tidak akan mati bila akarnya belum dimatikan. Lagipula, yang
selalu dihebohkan adalah soal buahnya, bukan inti dari bibitnya.
Pernah beberapa teman yang ikut dalam pengajian dituntut untuk memakai rok, dan itu berlaku setiap mengikuti pengajian. Nah dalam hati saya bertanya, "apakah itu memang yang di syariatkan atau hanya sebagai pembelajaran?" toh pada akhirnya keseharian mereka kembali memakai celana pensil atau semacamnya. (meski bukan tomboy).
Kembali ke urusan mengangkang ini. Bagi saya, masalah ini adalah
bunga-bunga atas ketidakyakinan Aceh atas ke-Islaman Aceh yang merupakan
jati diri mereka sendiri. Tidak penting banget urusan mengangkang ini
diurus sedemikian rupa. Otak dan hati kotor yang membuat manusia
berpikiran kotor atas perempuan yang mengangkang di atas motor. Jika
tidak kotor, maka akan berpikir biasa saja. Keamanan pengendara motor
yang duduk mengangkang jauh lebih aman dibandingkan bila membonceng
menyamping. Apakah faktor keselamatan ini tidak dipikirkan?! Jangan
kemudian dicari solusi perempuan tidak boleh naik motor, memangnya mau
belikan mobil untuk semua perempuan?!
Benahi saja dulu jati diri dan keyakinan atas ke-Islaman Aceh itu
sendiri. Seorang pemimpin yang meributkan hal ini harusnya dipertanyakan
ke-Acehannya. Yang memimpin Aceh seharusnya adalah seorang Aceh sejati
yang tahu persis apa dan siapa Aceh. Berdarah dan lahir di tanah Aceh,
tidak menjamin kualitas ke-Acehannya apalagi bila tidak "stabil"
sehingga mudah dipengaruhi walaupun merasa sudah sangat besar.
Objektifitas dan kemampuan bernegosiasi serta kepemimpinan seorang
pemimpian Aceh di jaman dulu yang hebat, tidak mengandalkan yang lain
tapi diri sendiri. Terbayang bagaimana wajah seorang Tjut Nyak Dien menyaksikan ini semua. Saya pun terenyuh.
Perempuan mengangkang membuat terkena tegangan kejut di hati dan kepala yang
kotor. Tidak akan ada tegangan kejut bila tidak ada benturan ion positif dan negatif yang
saling beradu. Bila pun terus berlanjut maka air mata pun akan terus
menetes tiada henti, mau sampai kapan?!





