Wednesday, January 9, 2013

Awasss Jangan Mengangkang!!!..


Ada beberapa model berboncengan dalam bersepeda motor, model samping dan "mengangkang". Dalam hal mengangkang bagi sebagian pria adalah bisa membuat pria bagai terkena tegangan kejut, Apalagi jika mengangkangnya di tempat tidur, Tegangan yang mengalir pun bergemuruh tak terkendali. Namun, bila perempuan mengangkang di atas motor, karena posisi tersebut lebih aman, kenapa sampai takut terkena tegangan kejut?! Sudah dipenuhikah kotoran otak dan hati kita?!

Rasanya aneh banget mengetahui keributan di Aceh soal pelarangan perempuan mengangkang  di atas motor. Dalam hati saya, ini apa lagi?! Apa tak ada pekerjaan lain yang lebih penting untuk dipikirkan sampai urusan seperti ini menjadi sesuatu yang penting?! Nggak takut dengan  tegangan kejut yang lebih besar lagi?! Kemaluan itu sudah diletakkan di mana?!

Kita selalu heboh dengan masalah lalu selalu santai karena merasa bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Solusi selalu ada tapi diterapkan atau tidak?! Solusi yang sifatnya sementara saja tidak diterapkan, asyik sibuk dengan keinginan, hasrat, nafsu, dan ego sendiri, apalagi solusi yang mendasar untuk menyelesaikan inti masalahnya. Pohon ditebang dahannya tidak akan mati bila akarnya belum dimatikan. Lagipula, yang selalu dihebohkan adalah soal buahnya, bukan inti dari bibitnya.

Pernah beberapa teman yang ikut dalam pengajian dituntut untuk memakai rok, dan itu berlaku setiap mengikuti pengajian. Nah dalam hati saya bertanya, "apakah itu memang yang di syariatkan atau hanya sebagai pembelajaran?" toh pada akhirnya keseharian mereka kembali memakai celana pensil atau semacamnya. (meski bukan tomboy).

Kembali ke urusan mengangkang ini. Bagi saya, masalah ini adalah bunga-bunga atas ketidakyakinan Aceh atas ke-Islaman Aceh yang merupakan jati diri mereka sendiri. Tidak penting banget urusan mengangkang ini diurus sedemikian rupa. Otak dan hati kotor yang membuat manusia berpikiran kotor atas perempuan yang mengangkang di atas motor. Jika tidak kotor, maka akan berpikir biasa saja. Keamanan pengendara motor yang duduk mengangkang jauh lebih aman dibandingkan bila membonceng menyamping. Apakah faktor keselamatan ini tidak dipikirkan?! Jangan kemudian dicari solusi perempuan tidak boleh naik motor, memangnya mau belikan mobil untuk semua perempuan?!

Benahi saja dulu jati diri dan keyakinan atas ke-Islaman Aceh itu sendiri. Seorang pemimpin yang meributkan hal ini harusnya dipertanyakan ke-Acehannya. Yang memimpin Aceh seharusnya adalah seorang Aceh sejati yang tahu persis apa dan siapa Aceh. Berdarah dan lahir di tanah Aceh, tidak menjamin kualitas ke-Acehannya apalagi bila tidak "stabil" sehingga mudah dipengaruhi walaupun merasa sudah sangat besar. Objektifitas dan kemampuan bernegosiasi serta kepemimpinan seorang pemimpian Aceh di jaman dulu yang hebat, tidak mengandalkan yang lain tapi diri sendiri. Terbayang bagaimana wajah seorang Tjut Nyak Dien menyaksikan ini semua. Saya pun terenyuh.   

Perempuan mengangkang membuat terkena tegangan kejut di hati dan kepala yang kotor. Tidak akan ada tegangan kejut bila tidak ada benturan ion positif dan negatif yang saling beradu. Bila pun terus berlanjut maka air mata pun akan terus menetes tiada henti, mau sampai kapan?! 
Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

0 comments: