Wednesday, June 29, 2011

Setengah Werkudara


Dia adalah sosok sederhana di mata keluarga, masyarakat dan teman-temannya. Mempunyai jiwa kepemimpinan yang tidak diragukan lagi, meskipun dibalik kesederhanaanya masih saja ada orang yang iri terhadap dia. Tetapi itu tidak menjadikannya menjauh dari orang yang iri terhadapnya, tetapi lebih mendekatkan lagi untuk di ajak menjalin sebuah hubungan tali silahturahmi. Tegas dalam setiap langkah yang menurut dia baik dan bagi orang lain, serta kepeduliannya terhadap rakyat bawah menjadikan werkudara di segani dalam setiap lapisan masyarakat luas. Memiliki putra dan putri adalah kebanggaannya yang telah lama dia nantikan, pulang pergi jodipati-madukara tidak membuat dia lelah dalam mencari berlian yang akan dipersembahkan kepada lima putranya, antareja1, antareja2, antadewi, antareja3, dan antareja4. Atas perintah bekas gurunya durna, Werkudara berangkat untuk mencari air hidup. Begitu mendengarnya seluruh perhatian werkudara tertuju padanya. Tidak ada pertimbangan yang menahanya. Besar tekadnya untuk mendapatkanya. Bersatu tekad hingga berani mati. Tanpa menghiraukan bahaya yang mengancamnya. Demi mencari air hidup untuk kelima putranya, werkudara rela membelah lautan dan membabat hutan. Akhirnya pada suatu ketika dia lelah dan berniat berangsut untuk istirahat, maka tiba-tiba tatkala itu sinar datang untuk memberitahukannya kalau dalam dekat ini antadewi bakal bertemu dengan pangeran dari ngastina pura. Dengan berbekal mimpi tersebut sang werkudara langsung berupaya untuk pulang ke jodipati untuk mengabarkan hal yang baik ini kekeluarganya. Sebelum kita melanjutkan tentang kabar yang dibawa oleh werkudara, ada baiknya kita mengetahui sekilas tentang jodipati sebuah desa ksatrian yang sejuk yang jauh dari kebisingan dan alamnya masih asri, perpindahan werkudara ke madukara adalah karena mengemban tugas yang diamanahkan ke dia untuk menjadi salah satu pemimpin disana. Selanjutnya kita simak lagi bagaimana suka cita nya orang sekeluarga mendengar antadewi akan bertemu dengan pangeran dari negri ngastina pura. Tetapi dalam perjalanan sang waktu tibalah pada suatu saat werkudara mengharuskan dia untuk bertarung melawan naga nemburnyawa yang mengharuskan dia gugur di medan peperangan. Setelah werkudara gugur dan belum sempat melihat putrinya antadewi bersanding dengan pangeran dari ngastina pura, kehidupan di madukara saat itu khususnya di kediaman werkudara sangat bersedih hati. Semua rakyat sekitar tidak menduka akan secepat itu meninggalkan keluarga serta orang disekitarnya. Sebelumnya antareja1 yang saat itu masih menempuh sebuah pelajaran di negri ngastina, berinisiatif pulang untuk menjenguk keluarganya, alangkah terkejutnya dia mendengar perihal ayahnya yang secepat itu meninggalkan dirinya untuk selamanya. Semuanya pasrah pada ketetapan ilahi dan berusaha menjalani semuanya dengan ikhlas dan rasa sabar. Pada akhirnya antadewi bersanding dengan pangeran dari negri ngastina pura tanpa didampingi oleh sang ayahanda, antareja1 sebagai wali nikah bagi sang adik. Begitulah hari demi hari di lalui dengan kebersamaan minus sang ayahanda sebagai sang mediator. Tetapi segala pelajaran yang dia ajarkan kepada anak-anaknya masih membekas hingga kini, dan membuat para putranya lebih semangat lagi dalam menjalani roda kehidupan yang semakin menantang seperti ekor sang naga nemburnyawa. Itulah ayahku sang setengah werkudara.
Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

0 comments: