Thursday, November 28, 2013

Detak Yang Tak Beraturan

 

 

Dan aku pun menyipitkan mata ketika terbuka pintunya dan ternganga lebar, hembusannya sempat membuat

beberapa helai kain bajuku terkoyak manis disana-sini. Menerbangkan semua pikiran galauku

ketika hendak  menutup kenanganku.

"Mengapa kau tidak menutup pintu itu" kata ibu kepadaku.

"iya ibu, aku akan menutup pintu itu, dan ku buka pintu yang lain" jawabku lirih.

Setelah pintu pertama tertutup, maka aku buka pintu kedua.

Kali ini hembusannya semilir sejuk menyapaku.

Aku biarkan angin itu masuk hingga mengisi ruas igaku yang menggigil karena malam terlalu banyak masuk

ke dalam perutku.

Mengelilingi seluruh tubuhku dan berakhir lewat belakang

Dan aku puas.

Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

2 comments:

  1. Ini aku masih bisa nalar om

    Ini kenththut.... haha

    ReplyDelete
  2. klo pintunya di buka secara bersamaan kan bisa lebih banyak angin yang masuk, resikonya pasti ada persaingan antara 2pintu yang terbuka

    ReplyDelete