Tuesday, November 19, 2013

Menunggu Hujan kedua


Hawanya khas tercium bau tanah yang basah, sesekali dedaunan berbisik dengan berisik pelan, melambaikan ruas rantingnya kesana kemari mengikuti tiupan angin sore itu. Sesekali tawa canda riang anak-anak kecil sayup terdengar sehingga menambah suasana mendung yang dinamis. sekumpulan anak-anak itu membuat ramai kecipak air mengisi kesepian sore itu, terasa di kulit sapaan rintik air dari atas menyadarkan lamunan soreku. anginnya sepoi mengenai kulit ariku yang kedinginan hingga lubang pori-poriku membesar. semakin banyak rintiknya hingga kacamataku mengembun memutih hingga aku membersihkannya dengan sehelai tisu. semakin deras hingga kecipak air yang menyapa tanah pun terdengar serentak mendinginkan suasana sore itu. Deras menghujam menyapa tanah, ribuan tetesnya membentuk lingkaran destinasinya. sesekali terlihat orang berpayung kecil melintasi jalan pantura dengan hanya memakai baju tipis dengan jahitan yang tidak begitu rapat.
Berjalan perlahan dengan payung ditangan, yang disana-sininya robek. Tetapi itu tidak mengurangi semangatnya untuk berjalan menyusuri jalan aspal yang tergenang oleh air hujan. sesampai dibawah pohon, dia menengadahkan kepalanya keatas, melihat masih gelapkah mendung di sekitarnya. Perlahan tangannya meletakkan payung usang yang sejak tadi kedinginan, kemudian bajunya yang tidak lagi baru namun masih bisa dipakai, dibukanya dan di letakkan disebuah ranting yang menjulang kebawah. Tangannya yang putih semakin kontras dengan warna hitam bajunya. seakan tidak menghiraukan hawa dingin yang menusuk tulang belulangnya. Hujan tidaklah seheboh apa yang orang lihat dan rasakan. mungkin derasnya bagi yang lainnya membawa manfaat, bersyukur adalah suatu penambah nikmat.
Disaat sirine malam berbunyi, semua pegawainya berhenti bekerja saat itu. Satu-satunya alat komunikasi yang mereka bawa adalah updating book karena didalamnya mengandung susunan skema yang salah satunya bisa membantu mereka melaksanakan tugasnya. Merangkai siklus kehidupan manusiawi induvidu sehingga tercapai rangkaian rantai makanan yang monokotomi. Tidak terasa hujan berhenti dengan manis, meninggalkan jejak yang transparan namun dingin.
Ketenangan hati dimana kita berada dalam puncak dan tetap dalam satu garis lurus dengan yang diatas, Bersyukur dengan tanpa melihat alat ukur. Meneladani dengan hati dan menyusuri hingga ke pangkal dari syukur itu sendiri. Hujan....aku menunggu yang kedua hingga ruas ari ku terpenuhi dingin hingga keseluruh tubuh.

Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

0 comments: