Thursday, October 13, 2011

Yang Terlewati


Di malam itu dia tidak datang untuk berkunjung, padahal hari sabtu adalah hari yang istimewa bagi sepasang muda mudi untuk saling memadu kasih, tapi tidak bagiku. Bagiku hari sabtu pasti di isi dengan sepi dan suasana yang tidak romantis. Keesokan harinya aku bertemu dengan doni dan bertanya mengapa setiap sabtu sekarang jarang bersinggah ke rumah antikku, apakah matahari sudah bosan menyinari bumi dengan ikhlas? Apakah angin mulai berhenti berhembus?
“Mengapa sekarang kamu jarang ke rumah?” tanyaku. “Aku jarang ke rumah karena aku lagi sibuk dengan proyek yang ada di luar kota” jawab doni sambil benerin dudukya di sofa ungu, warna khas rumah itu. “jadi setiap sabtu selalu sibuk ya?” tanyaku lagi. “iya sayang” jawab doni. Sekarang aku menggeser posisi dudukku agak mendekat ke doni, “kamu yakin setiap sabtu tidak ada waktu lagi untukku?” tanyaku sekali lagi. “Aku sudah menjelaskan ke kamu kan, bahwa setiap sabtu aku sibuk” kali ini nadany doni agak tinggi. “Ya sudah kalau setiap sabtunya kamu tidak bisa” jawabku lirih.
Aku mengikuti firasatku, bahwa malam kemarin dia hanya mengucap semu dan bermain dengan beberapa bintang yang di anggap bagus. Hari telah semakin larut mengantar beberapa orang-orang meraih mimpi dalam dunia khayal mereka masing-masing. Sementara aku berjalan keluar dari rumah doni sambil memberikan nasihat-nasihat kecil buat hati perasaku. Angin malam menyapa kulit ariku yang sedari tadi menahan dingin, berhembus perlahan tetapi menusuk dan seakan berbisik “berikanlah aku kekuatan pada setiap malamku Ya Allah”. Amin.
Pada keesokkan harinya, aku berangkat ke kampus untuk mengumpulkan suatu tugas kuliah, dan langsung menuju tempat fotocopy yang tak jauh dari gedung fakultasku. Sebelahku seorang cowok yang ga kalah kerennya dengan pacarku. Dia tersenyum ke arahku seakan berkata “mau fotocopy apa mbak?” aku balas senyumannya dengan senyum manisku. Dan aku pun kaget ketika dia melontarkan sapaannya kepadaku, “fotocopy apa mbak?” tanyanya. “aku hanya fotocopy berkas-berkas kuliah saja, belum sampe ke data profilenya” jawabku. Singkat cerita aku dan tomy semakin akrab, dan sering keluar bareng. Oleh karenanya aku merasakan kembali apa yang hilang selama ini, yang tidak aku dapatkan bersama pacarku. “kalau aku main ke rumah kamu saat ini, ada yang marah engga?” tanya tomy. Aku sempat kaget tentang pertanyaannya. Sebisa mungkin aku menahan rasa kaget itu. “hmm…engga kok tom” ujarku. Inilah kesempatan aku untuk bisa membalas semua perbuatan doni ke aku” gumamku dalam hati. Jika selama ini doni berpikiran aku akan selalu menantinya di sepanjang hari-hari sabtuku di setiap bulannya, salah…karena aku juga mendua dan akan aku isi hari-hari sabtuku dengan ceria dan penuh keromantisan. Dan semoga tidak ada lagi doni-doni yang lain, yang mengabaikan keinginan pasangannya untuk sebuah kebersamaan.   
Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

0 comments: