Thursday, January 10, 2013

Coklat Yang Membeku


Hari ini pagi bersandar pada angin yang berhembus kencang, Berhembus hingga ke ariku yang yang terbuka sedikit hingga angin bisa menyentuh bagian dalamku, bagian sumsum putihku. Hangat mengalir setetes demi tetes coklat yang berasap tipis, Asapnya terkena paparan sang dewa surya hingga membentuk bayangan. Aku bergegas menghampiri tangkai cangkir pagiku, Aromanya menusuk hidungku hingga paruku sesak akan harumnya busa coklat. Angin kencang tetap dalam alirannya, berlari kadang cepat menabrak papan reklame hingga menggoncangkannya. Busa coklatku tetap tenang hingga asapnya mulai menipis tetapi baunya masih harum mempompa hasrat untuk sekedar menikmati warna coklatnya. Saat angin mulai reda hingga dibawah batas normalnya berlari, Aku kembali dalam pelukan kertas penuh tinta. Kembali berpaduan dengan pensil dan pena hingga mesin hitam yang penuh tinta. Mataku tertuju pada kotak 17" didepanku, jariku menari hingga ruas keybordnya bersuara dengan lemah lembut. Kepulan asap coklatku tetap menari disampingku menemani aku menari hingga aku terkulai lemas sementara waktu. Waktu menyingsing hingga senja menghampiri, Asapku mulai habis tetapi aromnya tetap tertinggal di bibirku yang mulai mengering dengan bekas coklat disana-sini. Seorang teman menyodorkan isi kepalanya kepadaku, Bernyanyi hingga kerongkongannya kering getir dan tanpa pelumas apapun menghampirinya. Telingaku dengan setia mendengarkan nyanyian dia yang semakin lama semakin parau suaranya. Dia menceritakan tentang penduduk rumah disekitarnya yang tidak mau menuruti pena aturan kepala dusun. Mereka bersikukuh dengan arogan didada mereka, hingga bergemuruh bahwa tanah tempat dia terlempar ke alam dunia itu adalah milik mereka dan tetap tidak bisa pena aturan mengusirnya. Malam menjelang dia masih berceloteh dengan mesra kepadaku, hingga mataku sayu menhinggapi. Masih dalam nyanyian dia, para penduduk disana tetap bersikukuh dengan kemauan hatinya, mereka serta merta membawa hati yang tajam terhunus dengan mesra ditangan. karena tidak ada kata selaras diantara mereka akhirnya di cari jalan keluar yang membuat satu dan lainnya tidak dirugikan. Yaitu dengan cara boleh menempati tetapi mereka tetap harus mengganti separuh dari tanah itu, karena tanah itu murni bukan milik mereka. Aku setengah mengantuk dan terkaget setelah melihat temanku bercerita dengan mulut penuh busa. Dia terkapar dengan cerita yang masih tersisa di mulutnya yang membusa putih, Cerita itu kini jadi memori yang akan menjadi cerita tempat dia dilahirkan. Terkapar dengan memendam cerita yang masih membeku di otak kepalanya, yang mungkin akan keluar seiring darah dari hidungnya.


Wednesday, January 2, 2013

Life is Climb


Pagi beralaskan dosa menepuk sang Maha Pemaaf untuk diluruhkannya, Menengadah ke satu arah hingga terlelap dalam buliran doa. Di awal tahun pagi ini mendung menggelayut kepada tangkai awan yang datang berbondong-bondong, berteriak kebawah dengan menghembuskan nafasnya hingga terbentuk pusaran yang bisa mengangkat rumah. Rumput dalam genggaman tangan hampir lepas namun tidak sepenuhnya mau melepaskan, masih dalam taraf mencengkram hati tak rela. 
Angin masih mengalir dalam aliran yang pelan nan sejuk, menyapaku dengan sapaan pelan, "kapan kamu bergerak?". Bisikannya telah membangunkan detak jantungku yang terdahulu, ingin aku bergerak tetapi batu tempat duduk sang pertama membuat susah untuk diangkat, dia duduk dengan seutas tali kesadaran yang siap ditarik kapanpun, jam berapaun, dan siapapun yang menarik tali itu harus bergerak cepat tepat dan tertuju pada sang titik.
Menentramkan hati disaat gundah bukan tipe angin yang sedang berhembus lurus, hubungan vertikal kadang dibutuhkan disaat itu tiba. Hubungan Sang Pemaaf dan pembuat dosa adalah bagai hubungan ketergantungan, tanganku saling beradu disaat malam menjelang berharap dewi putih turun dengan membawa isi otakku. Jelang tengah malam banjir telah menggenang di dasar sajadah, warnanya memudar hingga tak nampak bagiku sebuah altar pengharapan.
Udara menggeliat menuju terbit sang cahaya pengharapan, berharap semuanya bisa lebih baik dengan masuk dalam pendakian hidup. mengurangi yang apa yang seharusnya dikurangi, menambah apa yang seharusnya ditambah. hirup yang mewangi di setiap jengkal langkah tumitmu hingga merasuk di paru-paru dan menyebar sampai ke hulu hati dan sapaan hangat sang mentari patut engkau dapatkan. 


Friday, December 21, 2012

Saat Senja

Saat Senja
Buka pengindra ketika malam menjelang dan tanpa cahaya, terpaan angin kadang penyampai pesan yg alami.  
Sehabis hujan sejuk menjuntai hingga ke bawah mata kaki, menggeliat dingin menusuk diantara tulang ibu jari. 
Kakinya kedinginan tanpa kaos kaki, ibu jari dan jari manisnya bertelanjang hingga kuku lentiknya bergemetar saling mengapit.  
Suaramu terdiam membisu, atau memang kamu bisu? Hingga lumut saja tidak mendengar hembusan nafas yg keluar dari hidung mancung itu. 
Sungguh engkau telah melewatkan kata-kata alam ketika menyapamu, sungguh engkau skrg batu yg membatu penuh lumut kesombongan. 
Berjalan di atas keraguan membuat angin kian kencang menerpa di sebagian belahan bumi di sekitar kepalaku.
Pejamkan mata di saat angin tak menentu berjalan di urat nadimu, gunakan apa yang telah di tanamkan oleh Tuhanmu untuk menentukan kemana angin itu menuju.
Apa yang engkau rasakan coba jalani dan bertahap naik dalam satu tingkatan tangga, satu demi satu tentunya angin akan menuntunmu tetapi sungguh usahamu adalah pemenangmu.
Bila sudah lelah, kobarkan api di kepalamu untuk menerangi lagi jalan menuju tangga yang telah kehilangan cahaya.
Ulat bulu berjalan dengan lambat di semak belukar, memecah keheningan walaupun berjalan lambat dan singkat, kesabaran yang terhebat.

Wednesday, December 12, 2012

Hujan kan Redakan Surammu

Cuaca yang begitu panas menyentuh kulit ari itu, berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung karena terlalu banyak makan tadi malam. sesaat dia menoleh untuk kemudian menyeberang menuju rumahnya yang tidak terlalu besar untuk seukuran dia. sesampai dirumah dia meminum semangkok air, tetapi lesu wajahnya tak kunjung berubah. sumpek, sedih, membuat dia tampak begitu semrawut wajahnya. Tampak diluar mendung berarak menuju tempat yang seharusnya ditempatinya, udara tiba-tiba dingin, angin kencang sehingga beberapa daun berguguran karena terpaanya. Sesekali guntur menunjukan kilatmya pada dunia. Menjelang sore awan sudah menunjukan komunitasnya, mereka berkumpul saling sapa untuk menghasilkan ratusan rintik hujan, dan ribuan air pun langsung mengguyur jalanan yang dari siang hari tadi sudah jenuh akan panasnya matahari. Dia melihat kearah luar, sungguh segar kalau badan ini terkena curahnya, pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, dia teringat akan menjemput saudaranya disebuah daerah. takut terjadi apa-apa, dia langsung meloncat keluar dan berlari menuju daerah tempat saudaranya menunggu. Curah hujan pun tidak dihiraukannya, dia berlari ke depan. Tiba-tiba dia berhenti sambil merasakan yang dia rasakan saat itu. Guyuran air merembes hingga di ujung kulit arinya, merasakan dengan penuh rasa tenang dan kedamaian di hati. Andai semua orang mempunyai hati yang damai seperti yang dia rasakan saat itu, maka dunia tak akan seperti saat ini, semrawut dan carut marut dalam dunia ambisi dan nafsu. Dia membuka mata dan berusaha tersenyum, wajah itu kini di hiasi senyum yang begitu indah. Hati kecilnya pun kini berdamai dengan raut wajahnya. Sumringah dan berbinar terpendar dari senyumannya. Dia berteriak "Aku bahagiaaaaaaa.....", hujan yang dari tadi tersenyum hingga mengeluarkan ribuan airnya, masih mengguyur dengan setianya, masih setia membangun rasa hati kegundahan dia dan menggantinya dengan sebuah keceriaan. dan hujan kan redakan surammu.

Monday, October 29, 2012

Antrian demi secarik kertas

Antrian demi secarik kertas
Sejenak sekitar ruanganku sejuk diterpa angin mega mendung, kulihat awan berarak menutup lintang derajat sekian. bergerak bebas tanpa batas ruang, berharap diantara awan ada celah untuk bisa mengintip buku Tuhanku.

Siang itu ribuan kaki bundar perlahan masuk palang pintu bertuliskan "ENTRY". sekali tombol secarik kertas bertuliskan deret nomor urutnya keluar secara otomatis.

"Aku ingin masuk di area sana yang kulihat masih abu-abu" gumamku

"Aku ingin membuat area abu-abu itu menjadi hijau savana" lanjutku.

Ketika aku pencet tombol itu secarik kertas keluar, tapi bukan deret nomor yang tertera melainkan sederet kalimat yang pendek.
aku maju hingga sampe portal kuning, tetapi portal itu tetap tidak bergeming.

Hingga aku membuka kertas tadi kubaca kalimat itu "GUNAKAN WAKTU LUANGMU DI SAAT KAMU MENGANTRI UNTUK SUKSES"

gunakan waktu luangmu sebaik-baiknya

Monday, October 8, 2012

Air Kehidupan


Di kala senja mulai melambai membangkitkan perasaan nyaman dipikiran, di kala aliran sungai tenang mengalir hingga ke hulu. Saat itulah ketenangan jiwa kita mulai membingkai disetiap tepian yang kita bentuk hingga hari ini. aliran angin yang terkesan membuat terlena setiap manusia yang menabraknya hingga trubulence terjadi diantara kedua seakan begitu menggelora kemudian meledak hingga meluluh lantakkan setiap batas ruang bias dan akhirnya lemas karena terpuaskan.

Monday, October 24, 2011

Semangatku Roketku


 Malam ini adalah malam yang tanpa lelah harus kucapai sampai finish, karena harus tepat waktu, sebagai penentu langkah awal menjadi seorang pacar yang baik. Langkahku tanpa henti menelusuri jalan yang basah akan hujan tadi sore, bau genting yang basah akan air hujan masih tercium di sepanjang perjalanan ku. Langkahku semakin aku percepat, dengan menoleh ke belakang aku rentangkan tanganku dan kemudian taxi pun berhenti, aku buka pintu taxi dan masuk, karena kawatir hujan yang tadi sore akan turun lagi untuk kedua kalinya. “Langsung tancap aja ya pak, ke alamat jalan raya kemuning no. lima” kataku. “Baik mas” kata pak sopir. Mobil taxi itu akhirnya meluncur kearah yang aku tuju, sebentar kemudian hujan turun dengan lebatnya. “Untung sudah di dalam taxi” gumamku dalam hati. Malam sudah menunjukan jam 18.00 sehabis maghrib, telepon genggamku kemudian bergetar dan bernyanyi ala queen dengan lagu don’t stop me now, aku pencet tombol hijau dan dari seberang sana terdengar suara wanita muda, ya suara wanda pacarku, “Mas nyampe mana?” tanyanya. “Mas dalam perjalanan ke jalan raya kemuning, sudah pada kumpul semua ya?” tanyaku. “sudahlah mas, ini papa sudah nanya” sahutnya. “iya iya sbentar lagi nyampe kok” kataku sekali lagi. Speedometer taxi sudah menunjukkan angka kecepatan 90 km/jam, pokoknya seperti film balap mobil yang ada bioskop itu, tiba-tiba mobil berjalan oleng dan miring kekiri tampaknya ban mobil taxi ini kempes. Segera aku turun dari taxi dan berlari menuju pangkalan ojek yang ada di sudut jalan itu. “Pak langsung ke jalan raya kemuning ya” kataku. “Ok mas, tancap gas” sahut tukang ojek itu. Meluncurlah ojek dengan diriku ke tempat tujuanku. Ku usap peluhku selama dalam perjalanan ke jalan kemuning. Sesampai di jalan kemuning masih mencari nomer lima, muter-muter keliling akhirnya sampai juga di jalan raya kemuning nomer lima. Rumah itu megah dan tampak taman yang asri dengan pagar besi yang berukir warna hitam, tampak elegan. Aku mencoba memencet tombol bel yang ada di sebelah kanan tembok pagar, tampak keluar wanita muda dengan busana kasual, ya wanda pacarku. “sudah ditunggu dari tadi mas” katanya. “maaf nda, banyak rintangan menuju kesininya, tapi akhirnya nyampai juga” sahutku dan wanda pun tersenyum. “aku bangga padamu mas, langsung masuk aja ya” sahutnya pula. “iya nda” kataku. Kami berdua masuk ke dalam rumah yang tergolong mewah itu. “kamu cuci muka dulu ta mas?” tanya wanda. “boleh, sebelah mana wastafelnya?” sahutku. “sebelah sana mas, kamu lurus terus belok kiri, disitu ada wastafel” balas wanda. “Ok” sahutku. Singkat cerita aku sudah satu meja dengan kedua orang tua wanda, dan inilah waktu yang bagus untuk menunjukkan keseriusanku pada wanda. “Ma pa ini tomy pacar aku” kata pembuka wanda saat itu. “malam om dan tante, saya tomy pacarnya wanda” kataku. “malam nak tomy, oh ini tho pacarmu win” sahut papanya winda. Winda mengangguk dan tersenyum tersipu malu. Tampaknya malam itu adalah malam yang sangat bahagia buat diriku, aku begitu akrab dengan papanya wanda yang ternyata sehobi dengan diriku yaitu sama-sama punya hobi main musik, Cuma papanya wanda lebih suka main keyboard. Begitulah acara perkenalanku dengan keluarga wanda. Wanda pun tampak bahagia karena aku telah di terima keluarganya. Aku tak lupa mengucap syukur kepada Allah SWT bahwasannya masih di berikan kesempatan untuk merasakan arti dari kebahagiaan itu. Malam semakin larut, aku pun berpamit diri dan malam itu aku menginap di hotel yang tak jauh dari rumah wanda. Bulan bersinar seakan sebagai saksi perjuangan cintaku malam itu. 

Kenangan Dan Ayah


 “Ayo nak kamu bisa melewati rintangan zig-zag itu” Teriak ayahku. Ya saat itu aku memang pertama kali memegang setir sepeda, ketika beranjak kelas lima dan pertama kali di beri hadiah sepeda BMX, sepeda yang paling keren di zamannya. “Nah gitu dunk, ayo sekali lagi ya” kata ayahku. “iya yah” kataku. Aku pun mengulangi lagi bersepeda melewati rintangan zig-zag itu, sesekali aku melihat kearahnya, wajahnya gembira karena akhirnya anaknya bisa bersepeda. Selalu memberi semangat ketika aku lelah mengayuh, selalu mengajarkan kepadaku bagaimana bersepeda yang aman, serta sabar dalam membimbingku. “Gubrraakk..” ketika itu rodaku terantuk batu, aku pun terjatuh, dengan sabar ayah menolongku, menuntunku hingga aku berdiri lagi. Pagi itu udara cerah, secerah semangatku untuk menaklukkan rintangan zig-zag yang diberikan oleh ayahku. Aku berhasil menaklukkannya walau dengan jatuh bangun. Ketika kita berdua pulang dengan keceriaan, dan memberikan hadiah kepada ibu sebuah cerita keceriaan saat di lapangan hijau itu. “Apa? Kamu habis jatuh tadi?” tanya ibuku. “yang mana yang jatuh” kok bisa ayahmu memberi rintangan yang sulit gitu” kata ibuku. “ga apa-apa kok bu, ayah juga sudah mengobati dengan obat merah” terangku. “Ya sudah mandi sana dan siap-siap makan malam” kata ibuku. “iya ibu” sahutku. Malam menjelang dan bintang pun berbaris menyinari langit malam yang cerah serta bulan dalam bentuknya yang sempurna. Kemudian ketika aku tertidur dalam malam yang terang dengan rembulan, ketika itu ayah melihatku terlelap dalam kamarku tanpa terasa selimut ini telah hangat menyelimuti tubuhku, tampaknya ayah menyelimutiku dengan selimut warna biru kesukaanku, dan tak lupa memberikan beberapa lembar uang kertas dan menaruhnya di balik bantalku yang empuk, yang bergambar kapten amerika. Malam itu aku berdoa supaya ayahku terus diberikan kesehatan selalu dan kita bisa bersama-sama sampai maut memisahkan kita. Memeluk ayaku dari belakang dan di sertai gelak tawa adalah caraku menyayanginya, menari dengan lagu kesenangannya dan bernyanyi bersama-sama dalam kebersamaan yang seperti tidak terpisahkan. Kadang aku mendengar ibuku menangis ketika harus mengingat saat susah bersama, dan aku selalu berdoa lebih dari diriku ini. Dan teringat lagi ketika bermain layangan bersamanya, tanganmu terampil dalam membuat kerangka, serta lengkung hingga menjadi satu layangan yang besar yang siap untuk di terbangkan. Betapa usahanya untuk membahagiakan diriku memang tidak surut. Kadang mengangkatku tinggi-tinggi dengan tangannya yang kekar, memberikan ilmu pengetahuan lewat pembelajaran yang menurut dia adalah cara yang tepat utnuk bisa di pahami dan di mengerti. Dan seperti kulihat sekarang, aku melihat dia tertidur pulas, kerut wajahnya cerminan pengalaman serta garis bijak tergambar di wajahnya. Aku mengamati serta merenungkan menjadi ayah yang bijak adalah begitu sulit, karena harus menilai banyak aspek serta dampak dari kebijaksanan itu. “Anton, di panggil ayahmu itu loh” teriak ibuku. “iya bu” sahutku. Aku berangkat dengan gembira. “Nak aku akan selalu di samping kamu” bisiknya lirih. Dan malam itu aku tenggelam dalam mimpi bersama ayahku, menari bersama dalam keceriaan tadi pagi. Malam semakin larut hingga bintang bergeser dalam menyinarinya dan bulan tetap dalam posisinya, menyinari diriku dari celah jendela sinarnya menerobos masuk, hingga menerangi mimpiku bersama orang yang aku sayang selalu, aku hormati dan aku jadikan panutan. Ayah……aku mengenangmu dalam kerinduan yang nyata.

Malaikatku Di Atas


 Asap rokokku mengepul membumbung tinggi hingga ke atas langit, mungkin akan bercampur awan yang berarak itu, mungkin pula akan bergabung menjadi satu dengan awan yang akan membentuk hujan. Memang awan saat ini sedang menyembunyikan matahari agar sang bumi sejuk, karena beberapa hari ini memang belum turun hujan. Tanpa sengaja rokokku jatuh kedalam sungai, dan basah hingga aku tidak bisa lagi menghisapnya dalam-dalam. Tampaknya hari ini aku tidak di takdirkan untuk merokok, dan sebatang rokokku pun aku hemat untuk kemudian hari. Aku pulang sambil melihat langit yang berarak sedikit demi sedikit menghimpun mendung. Sesampai di rumah, aku ambil botol bir ku untuk menghilangkan rasa dahaga yang dari tadi memuncak. “pyaaarrrr….” Apa ini!! Gelas yang dari tadi jauh dari aku tiba-tiba jatuh sendiri, “ah mungkin kena senggol kucing atau memang aku agak ke pinggir meletakkan gelasnya” pikirku. “atau aku memang punya bakat menjadi seorang pesulap seperti demian, atau dedi Corbusier hahaha” tertawaku dalam hati. Aku meninggalkan sejuta pertanyaan dalam benakku tentang apa yang terjadi hari ini. Sekali lagi aku mengambil gelas, kali ini aku mengambil gelas dengan ukuran jumbo, aku meletakkannya di sebuah meja kecilku. Aku pastikan gelas itu aman dari segala gerakanku. Aku berputar dan menghampiri lemari es yang dari tadi melambai-lambai untuk dibuka. Aku membukanya dan langsung mengambil satu botol bir merk ternama seantero gang kampungku. “pyaaaaarrrr!!....” bunyi itu seperti aku kenal, yah bunyi gelas jumboku, segera aku menoleh dan sekelebat bayangan kucing telah lari jauh melewati kolong meja makanku. “Mengapa hari ini aku tidak di perbolehkan melakukan hobiku!!!” teriakku. Kesal banget hari ini, kutinggalkan saja semuannya dan aku pun berangkat untuk mandi. Segar sudah setelah air dingin mengguyur kepalaku yang dari tadi tidak habis pikir dengan kejadian hari ini. Mengantuk yang kurasakan saat ini tidak membuat surut keinginanku untuk merokok sigaret kesukaanku. Ku ambil satu batang kemudian bersiap untuk aku nyalakan, tetapi apa yang terjadi…satu batang rokok itu pun patah tanpa sebab, aku melihat memang ada bekas air yang melintang menghiasi batang rokokku. “aduuhh apalagi inii..apa memang malaikat di atas sana cemburu kalau aku melakukan yang tidak sesuai dengan agamaku?” kataku lirih. Baiklah aku akan mengambil satu batang lagi dan kita buktikan apakah malaikatku melakukan sesuatu lagi. Aku mengambil satu batang lagi dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Tibalah saatnya untuk menyalakan rokokku, tetapi sesudah beberapa kali dinyalakan tidak mau menyala padahal korek zippo ku sudah aku periksa dan isinya masih penuh. Ya Tuhan, apalagi ini sih…Baiklah kalau pun malaikatku cemburu kepada hobiku yang buruk, aku akan meninggalkannya tetapi tidak sekarang Tuhanku, berikanlah sejenak waktu untuk membiasakan diri kepada hal yang selama ini sulit aku tinggalkan. Pagi telah datang beserta bias sinar sang surya yang indah menyinari pematang sawah yang hijau kekuningan serta pepohonan alam sekitarnya. Pagi ini aku memulai dengan tarikan nafas dan hembusan rasa syukurku kepada Tuhanku, karena aku bisa di hidupkan lagi dengan lebih baik serta kebiasaan burukku yang selama ini aku lakukan, sedikit demi sedikit bisa aku tinggalkan. Semua karena rasa sayangku kepada jiwa dan ragaku, karenanya aku bisa sadar dan tahu akan hidayah yang di sampaikan oleh Tuhanku kepada jiwa ragaku. Selamat datang kebaikan, selamat tinggal kebiasaanku dan selamat pagi duniaku. Matahari hangat menyapa kulit ariku dengan sangat ramah, di iringi kicauan burung yang menyanyi merdu.