Monday, October 24, 2011

Semangatku Roketku


 Malam ini adalah malam yang tanpa lelah harus kucapai sampai finish, karena harus tepat waktu, sebagai penentu langkah awal menjadi seorang pacar yang baik. Langkahku tanpa henti menelusuri jalan yang basah akan hujan tadi sore, bau genting yang basah akan air hujan masih tercium di sepanjang perjalanan ku. Langkahku semakin aku percepat, dengan menoleh ke belakang aku rentangkan tanganku dan kemudian taxi pun berhenti, aku buka pintu taxi dan masuk, karena kawatir hujan yang tadi sore akan turun lagi untuk kedua kalinya. “Langsung tancap aja ya pak, ke alamat jalan raya kemuning no. lima” kataku. “Baik mas” kata pak sopir. Mobil taxi itu akhirnya meluncur kearah yang aku tuju, sebentar kemudian hujan turun dengan lebatnya. “Untung sudah di dalam taxi” gumamku dalam hati. Malam sudah menunjukan jam 18.00 sehabis maghrib, telepon genggamku kemudian bergetar dan bernyanyi ala queen dengan lagu don’t stop me now, aku pencet tombol hijau dan dari seberang sana terdengar suara wanita muda, ya suara wanda pacarku, “Mas nyampe mana?” tanyanya. “Mas dalam perjalanan ke jalan raya kemuning, sudah pada kumpul semua ya?” tanyaku. “sudahlah mas, ini papa sudah nanya” sahutnya. “iya iya sbentar lagi nyampe kok” kataku sekali lagi. Speedometer taxi sudah menunjukkan angka kecepatan 90 km/jam, pokoknya seperti film balap mobil yang ada bioskop itu, tiba-tiba mobil berjalan oleng dan miring kekiri tampaknya ban mobil taxi ini kempes. Segera aku turun dari taxi dan berlari menuju pangkalan ojek yang ada di sudut jalan itu. “Pak langsung ke jalan raya kemuning ya” kataku. “Ok mas, tancap gas” sahut tukang ojek itu. Meluncurlah ojek dengan diriku ke tempat tujuanku. Ku usap peluhku selama dalam perjalanan ke jalan kemuning. Sesampai di jalan kemuning masih mencari nomer lima, muter-muter keliling akhirnya sampai juga di jalan raya kemuning nomer lima. Rumah itu megah dan tampak taman yang asri dengan pagar besi yang berukir warna hitam, tampak elegan. Aku mencoba memencet tombol bel yang ada di sebelah kanan tembok pagar, tampak keluar wanita muda dengan busana kasual, ya wanda pacarku. “sudah ditunggu dari tadi mas” katanya. “maaf nda, banyak rintangan menuju kesininya, tapi akhirnya nyampai juga” sahutku dan wanda pun tersenyum. “aku bangga padamu mas, langsung masuk aja ya” sahutnya pula. “iya nda” kataku. Kami berdua masuk ke dalam rumah yang tergolong mewah itu. “kamu cuci muka dulu ta mas?” tanya wanda. “boleh, sebelah mana wastafelnya?” sahutku. “sebelah sana mas, kamu lurus terus belok kiri, disitu ada wastafel” balas wanda. “Ok” sahutku. Singkat cerita aku sudah satu meja dengan kedua orang tua wanda, dan inilah waktu yang bagus untuk menunjukkan keseriusanku pada wanda. “Ma pa ini tomy pacar aku” kata pembuka wanda saat itu. “malam om dan tante, saya tomy pacarnya wanda” kataku. “malam nak tomy, oh ini tho pacarmu win” sahut papanya winda. Winda mengangguk dan tersenyum tersipu malu. Tampaknya malam itu adalah malam yang sangat bahagia buat diriku, aku begitu akrab dengan papanya wanda yang ternyata sehobi dengan diriku yaitu sama-sama punya hobi main musik, Cuma papanya wanda lebih suka main keyboard. Begitulah acara perkenalanku dengan keluarga wanda. Wanda pun tampak bahagia karena aku telah di terima keluarganya. Aku tak lupa mengucap syukur kepada Allah SWT bahwasannya masih di berikan kesempatan untuk merasakan arti dari kebahagiaan itu. Malam semakin larut, aku pun berpamit diri dan malam itu aku menginap di hotel yang tak jauh dari rumah wanda. Bulan bersinar seakan sebagai saksi perjuangan cintaku malam itu. 
Previous Post
Next Post

Seorang yang senang dengan dunia IT, seorang desainer yang suka menulis apa saja yang dianggap layak untuk ditulis dan disajikan kepada masyarakat luas.

0 comments: