“Ayo nak kamu bisa melewati rintangan zig-zag itu” Teriak ayahku. Ya saat itu aku memang pertama kali memegang setir sepeda, ketika beranjak kelas lima dan pertama kali di beri hadiah sepeda BMX, sepeda yang paling keren di zamannya. “Nah gitu dunk, ayo sekali lagi ya” kata ayahku. “iya yah” kataku. Aku pun mengulangi lagi bersepeda melewati rintangan zig-zag itu, sesekali aku melihat kearahnya, wajahnya gembira karena akhirnya anaknya bisa bersepeda. Selalu memberi semangat ketika aku lelah mengayuh, selalu mengajarkan kepadaku bagaimana bersepeda yang aman, serta sabar dalam membimbingku. “Gubrraakk..” ketika itu rodaku terantuk batu, aku pun terjatuh, dengan sabar ayah menolongku, menuntunku hingga aku berdiri lagi. Pagi itu udara cerah, secerah semangatku untuk menaklukkan rintangan zig-zag yang diberikan oleh ayahku. Aku berhasil menaklukkannya walau dengan jatuh bangun. Ketika kita berdua pulang dengan keceriaan, dan memberikan hadiah kepada ibu sebuah cerita keceriaan saat di lapangan hijau itu. “Apa? Kamu habis jatuh tadi?” tanya ibuku. “yang mana yang jatuh” kok bisa ayahmu memberi rintangan yang sulit gitu” kata ibuku. “ga apa-apa kok bu, ayah juga sudah mengobati dengan obat merah” terangku. “Ya sudah mandi sana dan siap-siap makan malam” kata ibuku. “iya ibu” sahutku. Malam menjelang dan bintang pun berbaris menyinari langit malam yang cerah serta bulan dalam bentuknya yang sempurna. Kemudian ketika aku tertidur dalam malam yang terang dengan rembulan, ketika itu ayah melihatku terlelap dalam kamarku tanpa terasa selimut ini telah hangat menyelimuti tubuhku, tampaknya ayah menyelimutiku dengan selimut warna biru kesukaanku, dan tak lupa memberikan beberapa lembar uang kertas dan menaruhnya di balik bantalku yang empuk, yang bergambar kapten amerika. Malam itu aku berdoa supaya ayahku terus diberikan kesehatan selalu dan kita bisa bersama-sama sampai maut memisahkan kita. Memeluk ayaku dari belakang dan di sertai gelak tawa adalah caraku menyayanginya, menari dengan lagu kesenangannya dan bernyanyi bersama-sama dalam kebersamaan yang seperti tidak terpisahkan. Kadang aku mendengar ibuku menangis ketika harus mengingat saat susah bersama, dan aku selalu berdoa lebih dari diriku ini. Dan teringat lagi ketika bermain layangan bersamanya, tanganmu terampil dalam membuat kerangka, serta lengkung hingga menjadi satu layangan yang besar yang siap untuk di terbangkan. Betapa usahanya untuk membahagiakan diriku memang tidak surut. Kadang mengangkatku tinggi-tinggi dengan tangannya yang kekar, memberikan ilmu pengetahuan lewat pembelajaran yang menurut dia adalah cara yang tepat utnuk bisa di pahami dan di mengerti. Dan seperti kulihat sekarang, aku melihat dia tertidur pulas, kerut wajahnya cerminan pengalaman serta garis bijak tergambar di wajahnya. Aku mengamati serta merenungkan menjadi ayah yang bijak adalah begitu sulit, karena harus menilai banyak aspek serta dampak dari kebijaksanan itu. “Anton, di panggil ayahmu itu loh” teriak ibuku. “iya bu” sahutku. Aku berangkat dengan gembira. “Nak aku akan selalu di samping kamu” bisiknya lirih. Dan malam itu aku tenggelam dalam mimpi bersama ayahku, menari bersama dalam keceriaan tadi pagi. Malam semakin larut hingga bintang bergeser dalam menyinarinya dan bulan tetap dalam posisinya, menyinari diriku dari celah jendela sinarnya menerobos masuk, hingga menerangi mimpiku bersama orang yang aku sayang selalu, aku hormati dan aku jadikan panutan. Ayah……aku mengenangmu dalam kerinduan yang nyata.
Kenangan Dan Ayah
Tags:
#Fiksiku

0 comments: