Asap rokokku mengepul membumbung tinggi hingga ke atas langit, mungkin akan bercampur awan yang berarak itu, mungkin pula akan bergabung menjadi satu dengan awan yang akan membentuk hujan. Memang awan saat ini sedang menyembunyikan matahari agar sang bumi sejuk, karena beberapa hari ini memang belum turun hujan. Tanpa sengaja rokokku jatuh kedalam sungai, dan basah hingga aku tidak bisa lagi menghisapnya dalam-dalam. Tampaknya hari ini aku tidak di takdirkan untuk merokok, dan sebatang rokokku pun aku hemat untuk kemudian hari. Aku pulang sambil melihat langit yang berarak sedikit demi sedikit menghimpun mendung. Sesampai di rumah, aku ambil botol bir ku untuk menghilangkan rasa dahaga yang dari tadi memuncak. “pyaaarrrr….” Apa ini!! Gelas yang dari tadi jauh dari aku tiba-tiba jatuh sendiri, “ah mungkin kena senggol kucing atau memang aku agak ke pinggir meletakkan gelasnya” pikirku. “atau aku memang punya bakat menjadi seorang pesulap seperti demian, atau dedi Corbusier hahaha” tertawaku dalam hati. Aku meninggalkan sejuta pertanyaan dalam benakku tentang apa yang terjadi hari ini. Sekali lagi aku mengambil gelas, kali ini aku mengambil gelas dengan ukuran jumbo, aku meletakkannya di sebuah meja kecilku. Aku pastikan gelas itu aman dari segala gerakanku. Aku berputar dan menghampiri lemari es yang dari tadi melambai-lambai untuk dibuka. Aku membukanya dan langsung mengambil satu botol bir merk ternama seantero gang kampungku. “pyaaaaarrrr!!....” bunyi itu seperti aku kenal, yah bunyi gelas jumboku, segera aku menoleh dan sekelebat bayangan kucing telah lari jauh melewati kolong meja makanku. “Mengapa hari ini aku tidak di perbolehkan melakukan hobiku!!!” teriakku. Kesal banget hari ini, kutinggalkan saja semuannya dan aku pun berangkat untuk mandi. Segar sudah setelah air dingin mengguyur kepalaku yang dari tadi tidak habis pikir dengan kejadian hari ini. Mengantuk yang kurasakan saat ini tidak membuat surut keinginanku untuk merokok sigaret kesukaanku. Ku ambil satu batang kemudian bersiap untuk aku nyalakan, tetapi apa yang terjadi…satu batang rokok itu pun patah tanpa sebab, aku melihat memang ada bekas air yang melintang menghiasi batang rokokku. “aduuhh apalagi inii..apa memang malaikat di atas sana cemburu kalau aku melakukan yang tidak sesuai dengan agamaku?” kataku lirih. Baiklah aku akan mengambil satu batang lagi dan kita buktikan apakah malaikatku melakukan sesuatu lagi. Aku mengambil satu batang lagi dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Tibalah saatnya untuk menyalakan rokokku, tetapi sesudah beberapa kali dinyalakan tidak mau menyala padahal korek zippo ku sudah aku periksa dan isinya masih penuh. Ya Tuhan, apalagi ini sih…Baiklah kalau pun malaikatku cemburu kepada hobiku yang buruk, aku akan meninggalkannya tetapi tidak sekarang Tuhanku, berikanlah sejenak waktu untuk membiasakan diri kepada hal yang selama ini sulit aku tinggalkan. Pagi telah datang beserta bias sinar sang surya yang indah menyinari pematang sawah yang hijau kekuningan serta pepohonan alam sekitarnya. Pagi ini aku memulai dengan tarikan nafas dan hembusan rasa syukurku kepada Tuhanku, karena aku bisa di hidupkan lagi dengan lebih baik serta kebiasaan burukku yang selama ini aku lakukan, sedikit demi sedikit bisa aku tinggalkan. Semua karena rasa sayangku kepada jiwa dan ragaku, karenanya aku bisa sadar dan tahu akan hidayah yang di sampaikan oleh Tuhanku kepada jiwa ragaku. Selamat datang kebaikan, selamat tinggal kebiasaanku dan selamat pagi duniaku. Matahari hangat menyapa kulit ariku dengan sangat ramah, di iringi kicauan burung yang menyanyi merdu.
Malaikatku Di Atas
Tags:
#Fiksiku

0 comments: