Hujan sore ini temaniku berlagu dalam sendiri, dalam lorong sunyi ini, dalam gelap, dengan harmonika usang yang tak pernah lepas dari genggaman tanganku, kulantunkan satu lagu tentang ibu , yah hanya satu lagu yang selalu kumainkan kala aku mengingatmu, ibu… senandung rindu yang hanya untukmu , tak kan bisa hentikkan waktuku tuk melagukannya untukmu. langit yang gelap, gemercik rintik hujan membuatku tak bisa menahan emosiku yang semakin bernafsu memainkan harmonica usangku ini… hanya ini yang ku punya disaat aku tak mampu meraih jemari lembutmu, kerinduanku tuk memeluk ragamu tak pernah lagi kudapatkan dalam keramaian ku sendiri , menghibur setiap pejalan kaki, kulakukan semua ini hanya untukmu yang telah ajarkan tuk terus lakukan apapun yang kusuka tuk kebahagiaanku.
Walau harus kubermandikan air hujan, aku tak mengapa walau harus berkejaran dengan sang waktu, hanya untuk sekeping uang receh tuk mengisi perutku. walau harus bergantung pada tongkat kecilku.. hanya tuk bisa menemuimu di kala senja tiba.. aku tak mengapa, ibuku bersenandung hanya untukmu , lewat hujan ini ku dendangkan lagu rindu untukmu. Lihatlah aku sekarang, aku bisa bernyanyi untuk mereka yang selalu ucapakan selamat pagi untuk seorang ibu hebat yang telah memberikan nafas hidup dan waktunya tuk berikan buah hatinya waktu untuk melihat indahnya pelangi.. yang hanya bisa kurasakan , imajinasiku akan elok warna nya.. dari setiap suara yang berbicara… mata ini tak dapat melihat keindahan dirinya tapi hati ini melukiskan. Kasihku atas kasihmu berikanku kekuatan tuk berbagi kasih dengan mereka yang mengasihiku dalam lelahku, Malam makin larut setelah lepas hujan tadi sore tadi, “Bu ada air putih hangat?” tanyaku. Aku menahan dingin udara malam dengan hanya kaos tipis warna biru. “Ada nak, nih satu gelas..kamu kedinginan tampaknya” kata ibu penjaga warung kopi. “Sini masuk warung ibu saja” katanya sekali lagi. Masih menggigil dalam kedinginan, aku pun masuk dalam sebuah warung yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu besar, cukup untuk sekedar menghindari terpaan angina malam yang meraung-raung yang siap menyeka kulitku. Setelah angin berhenti, aku meninggalkan semua yang terjadi malam itu, bau genting yang basah akan hujan membuat kerinduan akan kampung halamanku semakin memuncak, teringat lagi pelangi yang selalu ku lihat setiap hujan reda yang nampak di seberang sawah dekat sebuah gubuk. Rinduku akan suasana yang tenang dengan udara yang ramah kepada setiap kulit yang merasakannya. Malam semakin larut hingga aku berjalan dalam sebuah kerinduan semu yang terbungkus dengan kedinginan nyata. Sampailah aku pada sebuah ruangku, ruang dimana aku tidur dan meletakkan punggungku sejenak, dimana aku menghangatkan badanku dan terhindar dari raungan angin malam. Ku lihat jam dinding menunjukan pukul dua belas malam, tetapi meski badanku terhampar di kasur yang tidak begitu empuk namun pikiranku masih menuai rindu itu. Suara jangkrik masih ramai berdendang menyuarakan kegembiraan mereka akan sunyi yang mendamaikannya, begitu juga aku yang sedari tadi menatap langit-langit menerawang ke masa lampau dengan berselimutkan kerinduan akan hujan pelangi yang terjadi di masa lalu. Ketenangan sebuah jiwa terukur dalam tidurnya yang lelap dan tanpa beban memasuki mimpi yang di inginkannya, walau pada akhirnya mimpi itu akan membawa kita dalam batas dunia dimana kita tidak menginginkannya. Aku mendekap dalam kedinginan malam serta bermimpi dalam kerinduan hujan pelangi yang menakdirkan aku sampai di sini.

0 comments: