Kriiinngggg……!!!!!!!! Suara bel mengagetkanku dari tidur panjangku , aku bergegas lari membukakan pintu , ohh ternyata pak pos pengantar surat. Sambil berjalan menuju kamarku aku membuka amplop surat cantik berwarna pink dengan motif bunga di sekelilingnya ,
Hay Rhei , apa kabar nih ? aku harap kamu sehat-sehat disana. Masih ingatkah sama aku ?? J ehm aku teman lama kamu waktu masih duduk di bangku SD , aku dapat alamat tempat tinggal kamu dari tetanggamu yang dulu rumahnya sering kita pakai untuk belajar bareng , bermain , sampai kita SMP kita masih pinjam rumahnya tante anti sebagai tempat untuk bercua-cuap ria J , ingatkah kamu Rhei ?? , syukurlah kamu mengingatnya , aku seneng kalau kamu masih inget masa-masa dimana aku dan kamu saling bertukar cerita , ilmu dan bahkan tak jarang kita bertengkar walau hanya karna hal sepele .
Rhei aku sudah bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah terbuka di pulau Biak , Papua… aku ingin berjumpa denganmu Rhei walau hanya 1 jam saja , aku tak’kan lewatkan kesempatan itu… Rhei terima kasih kamu masih meluangkan waktumu untuk baca suratku ini. Rhei… ingatkah kamu disaat pertama kali aku cerita tentang Ben , masih ingat dengan cowok keren itu , iah walaupun dia begitu mengagumkan . Kehadirannya sempat membuat kita menjadi jauh , seolah ada tebing tinggi diantara kita berdua. Cemburu iah cemburu itu yang kamu bilang saat pertama kali Ben pegang tanganku untuk membalut luka di tanganku karna aku berusaha membantumu memotong bambu muda untuk praktikum tugas pak Edi , heeiii ingatkah kamu dengan pak Edi , bapak guru yang selalu melemparkan penghapus papan tulis kearah kita berdua saat kita bercanda di sela-sela waktu mengajarnya J.
Sudah 10 tahun aku tak berjumpa denganmu Rhei , ingin hati ini segera pulang dan berjumpa denganmu , memelukmu dan mengucapkan Hulla Hulla Duppy sambil berjabat tangan , waaoooo kamu masih mengingatnya J aku senang sekali kamu masih mengingat cara kita berjabat tangan , hal aneh tapi mampu menghipnotis seluruh teman sekelas untuk ikut melakukannya , benar sekali Rhei kita dulu adalah trendsetter di dalam kelas. Hahaha iah walaupun nggak populer di sekolah paling nggak kita popular didalam kelas heehee…
Ehm Rhei… maaf yah suratku ini membuatmu pusing karna harus mengingat-ingat masa-masa kita dulu..
Belum selesai kubaca surat itu , aku benar-benar pusing aku sungguh tak bisa mengingat siapa gadis yang mengirimiku surat , tapi belum selesai air mata ini tak kuasa untuk kutahan terus di tempatnya , dan sudah seharusnya aku lepaskan jaring-jaring pengikat yang menampung air mataku , aku sedih karna belum mengingat dia , dia pemilik surat manis ini , dan kembali aku membuka lembaran surat itu dan memutuskan untuk lanjut membacanya ..
Rhei jangan nangis yah , aku tau kamu pasti bingung siapa aku , aku nggak memaksa kamu untuk membaca surat ini tapi kamu yang sudah penasaran untuk membuka amplop manis suratku ini , karna memang sangat cantik bungkus dari suratku ini J . Rhei aku tak bisa bersabar hanya untuk menunggu waktu berbicara dan memberiku kesempatan untuk boleh bertemu denganmu … aku hanya memiliki waktu 3 hari terhitung dari sampainya surat ini … titut , masih ingat nama panggilan usil yang aku berikan padamu , ehmm baiklah aku akan kembali menceritakan padamu , panggilan titut aku berikan sewaktu kamu usil memainkan bel gerobak bakso yang menjadi bakso favorit kita berdua yang selalu lewat di depan rumahmu , walau kadang kita harus antri untuk mendapatkan seporsi bakso edan itu J . kamu masih belum ingat ???? , ahhhh sudahlah aku tak’kan memaksamu lagi , aku ingin kau tersenyum setelah membaca suratku ini … Papa dan mama sepakat untuk membiarkanku menjalani apa yang aku ingin lakukan di akhir kesempatanku menghirup udara segar dan menikmati kicau burung gereja di pulau kecil ini . Rhei tersenyumlah . itu yang ingin kulihat saat kamu selesai membaca suratku ini..
Aku tak’kan kecewa jika kamu tak dapat mengingatku… aku kecewa bila kau ingat aku lalu kau menangis tanpa sebab yang jelas.. Untuk Rheina Anggun Melati “hanya ada satu warna yang akan kupilih dalam hidupku dari sejuta warna indah pelangi , yaitu mentari.. sanggupkah aku menjadi mentari ??”
Salam sayang,
Rindu Mentari Kasih , sahabat kecilmu
Air mataku menetes deras kala aku mencium harum amplop surat manis itu , wanginya seperti wangi bunga matahari , bunga yang menjadi lambang persahabatanku dengannya , badanku gemetar kala aku melihat kalender diatas meja tepat di sebelah kiriku , dan aku tersadar dari kebingunganku mengingat Rindu , aku ingat Rindu sahabat kecilku yang memili sakit lupus yang mengharuskannya untuk jauh dariku hanya karna tak’ ingin melihatku sedih kala harus mendengarkan dia mengeluh kesakitan … Rindu sahabatku , aku merindukanmu tersenyum dan tertawa bersamaku.
“hanya ada satu warna yang akan kupilih dalam hidupku dari sejuta warna indah pelangi , yaitu mentari.. sanggupkah aku menjadi mentari ??”
0 comments: