Pagi beralaskan dosa menepuk sang Maha Pemaaf untuk diluruhkannya, Menengadah ke satu arah hingga terlelap dalam buliran doa. Di awal tahun pagi ini mendung menggelayut kepada tangkai awan yang datang berbondong-bondong, berteriak kebawah dengan menghembuskan nafasnya hingga terbentuk pusaran yang bisa mengangkat rumah. Rumput dalam genggaman tangan hampir lepas namun tidak sepenuhnya mau melepaskan, masih dalam taraf mencengkram hati tak rela.
Angin masih mengalir dalam aliran yang pelan nan sejuk, menyapaku dengan sapaan pelan, "kapan kamu bergerak?". Bisikannya telah membangunkan detak jantungku yang terdahulu, ingin aku bergerak tetapi batu tempat duduk sang pertama membuat susah untuk diangkat, dia duduk dengan seutas tali kesadaran yang siap ditarik kapanpun, jam berapaun, dan siapapun yang menarik tali itu harus bergerak cepat tepat dan tertuju pada sang titik.
Menentramkan hati disaat gundah bukan tipe angin yang sedang berhembus lurus, hubungan vertikal kadang dibutuhkan disaat itu tiba. Hubungan Sang Pemaaf dan pembuat dosa adalah bagai hubungan ketergantungan, tanganku saling beradu disaat malam menjelang berharap dewi putih turun dengan membawa isi otakku. Jelang tengah malam banjir telah menggenang di dasar sajadah, warnanya memudar hingga tak nampak bagiku sebuah altar pengharapan.
Udara menggeliat menuju terbit sang cahaya pengharapan, berharap semuanya bisa lebih baik dengan masuk dalam pendakian hidup. mengurangi yang apa yang seharusnya dikurangi, menambah apa yang seharusnya ditambah. hirup yang mewangi di setiap jengkal langkah tumitmu hingga merasuk di paru-paru dan menyebar sampai ke hulu hati dan sapaan hangat sang mentari patut engkau dapatkan.
Menentramkan hati disaat gundah bukan tipe angin yang sedang berhembus lurus, hubungan vertikal kadang dibutuhkan disaat itu tiba. Hubungan Sang Pemaaf dan pembuat dosa adalah bagai hubungan ketergantungan, tanganku saling beradu disaat malam menjelang berharap dewi putih turun dengan membawa isi otakku. Jelang tengah malam banjir telah menggenang di dasar sajadah, warnanya memudar hingga tak nampak bagiku sebuah altar pengharapan.
Udara menggeliat menuju terbit sang cahaya pengharapan, berharap semuanya bisa lebih baik dengan masuk dalam pendakian hidup. mengurangi yang apa yang seharusnya dikurangi, menambah apa yang seharusnya ditambah. hirup yang mewangi di setiap jengkal langkah tumitmu hingga merasuk di paru-paru dan menyebar sampai ke hulu hati dan sapaan hangat sang mentari patut engkau dapatkan.

0 comments: