Buka pengindra ketika malam menjelang dan tanpa cahaya, terpaan angin kadang penyampai pesan yg alami.
Sehabis hujan sejuk menjuntai hingga ke bawah mata kaki, menggeliat dingin menusuk diantara tulang ibu jari.
Kakinya kedinginan tanpa kaos kaki, ibu jari dan jari manisnya bertelanjang hingga kuku lentiknya bergemetar saling mengapit.
Suaramu terdiam membisu, atau memang kamu bisu? Hingga lumut saja tidak
mendengar hembusan nafas yg keluar dari hidung mancung itu.
Sungguh engkau telah melewatkan kata-kata alam ketika menyapamu, sungguh engkau skrg batu yg membatu penuh lumut kesombongan.
Berjalan di atas keraguan membuat angin kian kencang menerpa di sebagian belahan bumi di sekitar kepalaku.
Pejamkan mata di saat angin tak menentu berjalan di urat nadimu, gunakan apa yang telah di tanamkan oleh Tuhanmu untuk menentukan kemana angin itu menuju.
Apa yang engkau rasakan coba jalani dan bertahap naik dalam satu tingkatan tangga, satu demi satu tentunya angin akan menuntunmu tetapi sungguh usahamu adalah pemenangmu.
Bila sudah lelah, kobarkan api di kepalamu untuk menerangi lagi jalan menuju tangga yang telah kehilangan cahaya.
Ulat bulu berjalan dengan lambat di semak belukar, memecah keheningan walaupun berjalan lambat dan singkat, kesabaran yang terhebat.
0 comments: